Usai Bertemu Mendag China, Airlangga Dorong Realisasi 30 MoU Investasi Rp 37,1 Triliun

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah mendorong percepatan realisasi 30 nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dalam kerja sama Two Countries Twin Parks (TCTP) Indonesia-China yang memiliki nilai investasi sekitar Rp 37,1 triliun.
Kerja sama TCTP menjadi salah satu platform strategis yang menghubungkan kawasan ekonomi dan industri, pemerintah daerah, serta pelaku usaha di Indonesia dan China untuk memperkuat investasi dan kerja sama industri kedua negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, berbagai kesepakatan yang telah ditandatangani tersebut perlu segera diwujudkan menjadi investasi nyata agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara.
"Berbagai Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani perlu segera ditindaklanjuti menjadi investasi nyata," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/7/2026).
Airlangga menambahkan, salah satu langkah yang perlu didorong untuk mempercepat implementasi berbagai kesepakatan tersebut ialah pembentukan perusahaan patungan (joint venture) antara pelaku usaha Indonesia dan China.
"Kami juga mendorong pembentukan joint venture agar kerja sama TCTP dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih konkret," ucapnya.
Hal itu disampaikan Airlangga saat bertemu Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai, China, Kamis (16/7/2026), di sela agenda kunjungan kerja pemerintah Indonesia.
Selain membahas TCTP, Airlangga dan Wang Wentao turut membahas penguatan hubungan ekonomi Indonesia-China yang selama ini terus menunjukkan perkembangan.
Nilai perdagangan kedua negara tercatat mencapai 154,6 miliar dollar AS (Rp 2.802,6 triliun, asumsi kurs Rp 18.128), sementara realisasi investasi China di Indonesia hampir mencapai 8,1 miliar dollar AS (Rp 146,8 triliun).
Airlangga menilai hubungan ekonomi tersebut perlu terus ditingkatkan, tidak hanya dari sisi nilai perdagangan, tetapi juga kualitas investasi yang masuk ke Indonesia.
Menurutnya, kerja sama ke depan perlu diarahkan pada peningkatan perdagangan yang lebih berimbang, investasi berkualitas, transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan kapasitas industri nasional.
Dalam kesempatan itu, Airlangga juga memperkenalkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai mitra strategis yang diharapkan dapat mendukung masuknya investasi berkualitas dari China ke Indonesia.
Pemerintah juga mengundang perusahaan-perusahaan China untuk berpartisipasi dalam pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt yang tengah disiapkan Indonesia sebagai bagian dari agenda transisi energi.
Selain itu, Indonesia meminta dukungan China terhadap usulan pembentukan Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Indonesia.
Airlangga bilang, kehadiran sekretariat tersebut diharapkan dapat memperkuat implementasi perjanjian perdagangan regional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam kerja sama ekonomi kawasan.
Pertemuan kedua menteri juga membahas persiapan menuju forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2026, termasuk peluang memperluas kerja sama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan China.
Sebelumnya: Balik Nama Sertifikat Tanah Selesai Maksimal 10 Hari Lewat Sistem FIFO
Selanjutnya: Menkop Dialog dengan 10 Asosiasi Desa di RI, Tuntaskan Persoalan KDKMP
Artikel Terkait
- Efisiensi dan Keamanan Jadi Prioritas Memilih Pemanas Air Listrik
- Lihat IG Pramono, Warga Langsung Bawa Kucing Sakit ke Klinik Hewan Keliling
- KPK Geledah Rumah Anggota BPK Bobby Rizaldi Terkait Kasus Bupati Muara Enim
- Tarif Listrik PLN 20-26 Juli 2026 Telah Ditetapkan, Ini Rinciannya
- Ketegangan Memuncak, Iran Luncurkan Rudal Balistik ke Pangkalan AS di Saudi
- Laju Terhenti di Semifinal Japan Open 2026, Putri KW Pilih Mawas Diri
- Ketum Dekopin Bantah Anggapan Koperasi Kuno: Real Madrid Dikelola Koperasi
- Mayoritas Warga AS Perkirakan Perang Iran Akan Lama
